background
logotype
image18 image19 image20 image21 image22 image13 image14 image15 image16 image17 image1 image2 image3 image5 image6 image12

Testimonial Halaman 2

Bapak Malon Manurung
“Terimakasih kepada Tuhan dan kepada Pendiri Harapan Jaya”
Saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa juga kepada penggagas berdirinya Harapan Jaya. Bagi saya manfaat Harapan Jaya sangat besar. Kalau dulu saya berjalan harus dengan tongkat. Sekarang saya bisa berjalan dengan bebas tanpa tongkat dengan kaki palsu.

Selengkapnya...

Testimonial Halaman 3

Bapak Samson Yohanes Sitanggang


“Dua episode dari hidupku sudah kulalui di Harapan Jaya”.
Saya mengalami kecacatan sejak umur (17 thn) tepatnya sejak tanggal 08 Pebruari 1991. Ketika itu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Kecacatan yang saya alami sungguh membuat jiwa saya down/drop dan merasa terasing dari dunia sekeliling saya. Hal ini dikarenakan setiap teman-teman yang melihat saya akan memandang saya dengan tatapan penuh rasa kasihan, seakan-akan tidak ada yang lain, yang bisa diberikan kepada saya selain rasa iba dan belaskasihan.Setelah saya tammat dari SMA berumur 20 tahun, saya berjumpa dengan Sr.Jeannette secara kebetulan di Susteran Parlilitan sewaktu saya mengunjungi keluarga yang bekerja di sana. Dan selanjutnya oleh Sr.Jeannette saya di bawa ke Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya. Tepatnya pada hari Kamis tanggal 26 Agustus 1993 saya menjalani operasi yang dilaksanakan oleh Prof.Dr.S.E.R. Hovius. Dan selama lebih kurang 1 bulan saya menjalani perawatan, kemudian saya melanjutkan dengan belajar menjahit lebih kurang 3 bulan sambil belajar mengetik. Pada bulan Januari tahun 1994 saya diusulkan oleh Sr.Jeannette untuk belajar sekaligus membantu di administrasi, itulah awalnya saya bekerja di administrasi Harapan Jaya. Saat HUT 25 thn Harapan Jaya, saya telah bekerja selama 12 tahun sebagai tugas di administrasi. Banyak pengalaman yang baik saya dapatkan di Harapan Jaya, secara khusus saya menemukan kembali arti hidup saya, dari Harapan Jaya juga saya temukan teman hidup. Hingga saat ini saya sudah menempuh dua episode dalam kehidupan saya di Harapan Jaya yakni masa muda (lajang) dan masa hidup berkeluarga. Yang paling berarti bagi saya, sungguh keberuntungan dipihak saya manakala Sr.Jeannette dan Prof.Dr.S.E.R. Hovius mau mengoperasi saya, karena setelah saya operasi, ada juga beberapa orang yang mengalami kecelakaan sama seperti yang saya alami, mereka datang ke Harapan Jaya, tetapi tidak diterima untuk dioperasi. Kebaikan Tuhan sungguh nyata bagi banyak orang lewat pelayanan PRHJ, semoga setiap orang yang datang PRHJ semakin mengalami KASIH dan HARAPAN yang cerah. Doaku. 


Bapak Agustinus Ponirin Hutabarat


“Harapan Jaya mampu merehabilitasi fisik saya, mengajarkan keterampilan, kemandirian.....”
Awal saya mengenal Harapan Jaya tahun 1986 pada waktu saya mengalami kecelakaan dan opname di Rumah Sakit Umum Pematang Siantar. Suatu hari saya kedatangan tamu Sr.Jeannette van Paassen seorang biarawati. Beliau bercerita tentang Harapan Jaya lalu menawarkan saya untuk datang ke Harapan Jaya. Kemudian harinya saya datang ke Harapan Jaya, yang ternyata Sr.Jeannette van Paassen adalah pimpinan di Harapan Jaya. Harapan Jaya mampu merehabilitasi fisik saya, mengajarkan ketrampilan, kemandirian dan disipilin, kebaikan kepada sesama tan taqwa kepada Tuhan.
Pada akhirnya tahun 1988 Harapan Jaya mengangkat saya menjadi Karyawan di bidang ketrampilan jahit hingga saat ini. Saya bersyukur kepada Tuhan atas semua yang saya terima dari Harapan Jaya. Terimakasih Harapan Jaya”.

 


Bapak Yunus Manalu


“Proficiat Harapan Jaya”
Pada waktu itu tepatnya hari Minggu P.Albertus Pandiangan, OFMCap. Datang ke Stasi Huta Pinang untuk Misa. Sebagaimana anak-anak desa khususnya yang beragama Katolik kalau datang Pastor rasanya sungguh sangat didambakan. Perasaan saya pun, begitulah saat itu, dibarengi rasa malu saya beranikan menyalam Pastor itu. Selesai acara Misa, biasanya Pastor selalu bersedia diajak makan siang di rumah Voorhanger dan kebetulan Voorhanger itu kakek saya. Singkat cerita Pastor itu menyarankan supaya saya dibawa ke Harapan Jaya. Saya hampir tidak mau pada waktu itu, tetapi hatiku diperteguh kembali oleh Namboru saya, akhirnya saya bersedia berangkat ke Harapan Jaya.
Setibanya di Harapan Jaya ada pengalaman yang membingungkan dan saya anggap lucu. Ceritanya begini, ada satu orang pemuda kalau sepintas dilihat, seakan tidak ada cacatnya dan saya tidak tahu kalau dia amputasi dan memiliki kaki palsu, maklumlah saya baru satu hari di Harapan Jaya. Lalu keesokan harinya saya melihat pemuda itu meloncat-loncat dengan kaki sebelah menuju ke kamar mandi dan saya melihat kakinya puntung, lantas dalam benak saya berkata apakah ada dua orang mirip dengan si Pemuda tadi?  Satu yang sehat dan satu yang cacat? Itu lah pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya saat itu.
Pepatah mengatakan  “dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung”, setelah saya tinggal di Harapan Jaya, peraturan yang ada harus semua diikuti, mulai dari latihan fisioterapi-ergoterapi, membantu mencuci piring, menyiram bunga. Rasanya saat itu sangat membosankan, tetapi kini saya sadari itulah langkah untuk maju. Satu hal lagi untuk memotivasi saya adalah bahwa kecacatan yang saya derita dibandingkan dengan kecacatan teman yang lain, masih ada yang lebih berat, sehingga inilah satu kunci untuk memampukan saya menerima diri dari kecacatan. Yakni masih mampu bangga atas kecacatan yang satu dengan yang lain. Dua (2) tahun saya menjalani revalidasi dan sampai sekarang saya berkarya di Harapan Jaya, maka tak salah saya mengatakan bahwa Harapan Jaya adalah tempat membentuk  pribadi saya, kehidupan saya, sehingga menjadi lebih baik. Terimakasih bagi semua orang yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Proficiat Harapan Jaya.

 

©  2017  Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya - Pematangsiantar