background
logotype
image18 image19 image20 image21 image22 image13 image14 image15 image16 image17 image1 image2 image3 image5 image6 image12

Sejarah Berdirinya Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya

A. Awal mula lahirnya

Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya lahir secara “ kebetulan”. Sr. Jeannette van Paassen sebagai perawat dan bidan, menemukan seorang pemuda, Bernike namanya, ia setengah lumpuh akibat patah tulang punggung.  Meskipun Suster Jeannette sangat pandai dan cukup berpengalaman dalam menangani pasien melahirkan ataupun sakit, tetapi untuk kasus seperti ini ia cukup kewalahan, tidak tahu harus berbuat apa.
Pada suatu hari, seorang adik ipar Suster Jeannette ( suami dari adik perempuannya ) datang dari Belanda untuk mengunjunginya, sekaligus ingin melihat keadaan Bernike. Peter van der Burg namanya, ia seorang fisiotherapeud. Ia menyarankan agar memasang tali pada sepotong kayu, meletakkannya di atas tempat tidur Bernike, kemudian mencoba menariknya sampai pada posisi duduk, dan ternyata berhasil! Maka lahirlah gagasan Rehabilitasi pada saat itu.
Pada bulan Februari 1981, timbul keinginan untuk mencari tempat bagi orang cacat. Pada tanggal 15 Maret 1981, lahirlah Yayasan “ Saut Monang “ (yang berarti Jadi Menang), juga diusahakan menghimpun dana untuk membantu para penyandang cacat, khususnya bagi mereka yang tidak mampu. Nama “ Saut Monang “ kemudian di-Indonesia-kan menjadi “ Harapan Jaya “.

Pada bulan April 1981, Ibu M. Meeuwese datang ke Sumatera Utara untuk mempelajari situasi dan melihat kemungkinan membantu penyandang cacat di daerah ini, dan menemui Pendeta SN Manurung, Ketua Persatuan Pen-derita Cacat Kodya Pematangsiantar, untuk membicarakan hal itu. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan suatu Pusat Rehabilitasi bagi penyandang cacat, yang pada 01 Juni 1981 dibentuk suatu Panitia Persiapan, dengan anggota Pastor Godhard Liebreks, Suster Jeannette van Paassen, Pendeta SN Manurung, Pastor Benetius Breevoort, dan Pastor Adelbert Snijders.
Pada tanggal 11 Juni 1981, Bupati Kabupaten Simalungun, yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak JP Silitonga, menjanjikan tanah seluas 2,5 ha sebagai areal untuk dibangunnya Pusat Rehabilitasi dimaksud, maka sekitar bulan Juli 1981, diajukan proposal kepada DNIKS dan peminat –peminat lainnya. Sementara menanti realisasi dari semua rencana diatas, usaha membantu penyandang cacat tetap berjalan terus. Dalam pembicaraan dengan Ibu JS Nasution di Jakarta, diusulkan untuk memulai Pusat Rehabilitasi di salah satu rumah sewaan, yang bantuan dananya diperoleh dari DNIKS. Pada tanggal 1 September 1981, disewa sebuah rumah yang terletak di Jalan Narumonda Atas No. 24, Pematang Siantar, untuk jangka waktu 2 tahun. Pasien pertama yang dirawat disana Bernike Manurung (alm). Dan Hasudungan Manurung (alm).

Pada tanggal 1 September 1981, disewa sebuah rumah yang terletak di Jalan Narumonda Atas No. 24, Pematang Siantar, untuk jangka waktu 2 tahun. Pasien pertama yang dirawat disana Bernike Manurung (alm). Dan Hasudungan Manurung (alm).
Pusat Rehabilitasi yang baru ini, yang kemudian diberi nama Harapan Jaya, dan diresmikan pada tanggal 17 November 1981, sudah mulai dikenal dan dikunjungi oleh para penyandang cacat, juga oleh tamu ataupun kenalan yang datang dari dalam dan luar negeri. Bantuanpun semakin deras mengalir, baik yang berupa uang, maupun sandang dan pangan. Kongregasi Frater Balige menyumbangkan TV brwarna, Kedutaan Besar Belanda menyumbangkan sebuah Honda Cup, DNIKS mengirimkan 5 buah kursi roda, dan organ.

B. Pembangunan dan Perkembangan
Pada tahun 1982 s/d 1983, disusun rencana pembangunan dan mengatur letak bangunan agar sesuai dengan luas tanah. Adapun bangunan yang direncanakan akan dibangun adalah gedung utama, ruang opname, ruang fisiotherapi, ruang latihan, ruang pendidikan, ruang ketrampilan, asrama karyawan/ti, ruang dapur, gudang, garasi, dsb, sehingga berdasarkan kebutuhan inilah, maka tanah yang direncanakan akan diberikan seluas 2 ha, diperluas menjadi 2,5 ha.
Berkat dukungan dari Bapak Bupati JP Silitonga, akhirnya pada tahun 1983, pembangunan Pusat Rahabilitasi dimulai, dan dari sekian banyak rencana, yang dapat direalisasikan pada saat itu adalah gedung pusat dan bangunan semi permanen untuk pelayanan.
Pada hari Sabtu, tanggal 11 Agustus 1984, kedua bangunan tersebut selesai, dan diresmikan oleh Menteri Sosial RI pada saat itu Ibu Nany Soedarsono, dan Menteri Perumahan Rakyat pada saat itu Bapak Cosmas Batubara, juga dihadiri oleh Ibu JS Nasution, Bapak Bupati JP Silitonga, serta para pejabat dari beberapa instansi Pemerintah di Kabupaten Simalungun. Kemudian pada tahun 1984 Harapan Jaya di Jl. Narumonda Atas No. 24 dipindahkan ke Jl. Makadame Raya Perumnas Km. 6.
Gedung pusat yang awalnya direncanakan untuk keperluan administrasi, kamar dokter dan fisiotherapi, ruang rapat, dan ruang tamu, karena kebutuhan yang mendesak, untuk sementara difungsikan juga sebagai ruang makan, ruang tidur, ruang therapy, ruang jahit, ruang perawat, dan ruang ketrampilan, sementara bangunan semi permanen berfungsi untuk dapur, garasi, gudang, kamar cuci, dan karyawan/ti. Ini membuktikan bahwa bangunan yang ada tidaklah cukup.
    

Tahun 1985 dimaksudkan sebagai tahun konsolidasi dan persiapan pembangunan tahap selanjutnya. Konsolidasi pertama-tama dibidang keuangan, kemudian penambahan tenaga karyawan yang terampil. Pada fase ini karyawan sangat dituntut untuk lebih fleksibel dalam menjalankan tugasnya. Pembangunan fasilitas ruangan direncanakan secara seksama agar dapat memenuhi kebutuhan dari seluruh kegiatan Pusat Rehabilitasi ini, yang akhirnya bisa tercapai berkat jasa Dewan Pembina dan Pimpinan, juga berkat bantuan dari para penyumbang dana. Pada tanggal 26 November 1985 dimulailah pembangunan tersebut. Bangunan yang ada sekarang ini sudah dirasakan cukup dan masih dalam keadaan baik.
Pada saat yang bersamaan, manajemen juga dibenahi, dimulai dengan pembentukan Dewan Pembina, Direksi/Staff, Karyawan/ti, juga menjalin kerja sama dengan para ahli fisiotherapi dan kesehatan, baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun disibukkan dengan urusan pembangunan dan manajemen, tetapi pelayanan terhadap para pasien terus berjalan dan ditingkatkan, dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa para pasien yang dirawat semakin bertambah jumlahnya.

    Waktu terus berlalu, Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya semakin maju dengan mengemban misi kemanusiaan, dan sudah dikenal baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak pasien yang telah ditolong dan akhirnya bisa mandiri. Tentunya karya ini bisa berhasil berkat perhatian dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, terutama para donatur, sehingga memungkinkannya untuk tetap eksis sampai sekarang.


      

©  2017  Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya - Pematangsiantar